Jan 30, 2011

diam itu emas?

diam itu emas. iya gitu? mungkin iya, pada saat-saat tertentu. tapi kalau keseringan?

akhir-akhir ini saya punya masalah berkomunikasi. tidak, saya tidak menyalahkan provider, handphone, atau ISP saya. bukan juga telinga saya yang sakit. tapi antara otak, hati, mulut, dan tangan semuanya ga sinkron. mungkin saya bukan penyampai pesan yang baik, penulis yang berbakat, atau pencerita yang yang hebat. saya ga bisa menyampaikan apa yang ingin dan harus saya sampaikan. kadang sinyal informasi dari hati saya mengalami distorsi setelah sampai di otak. atau sinyal dari otak yang tidak terfiilter sempurna oleh hati. atau path loss yang terlalu besar antara otak dan mulut yang membuat sinyal yg keluar dari mulut menjadi sangat kecil. atau bisa juga karena terlalu banyak derau saat sinyal sampai di tangan sehingga banyak kata tidak perlu yang tertuliskan. jadi saya lebih memilih diam, menerka apa yang orang pikirkan, dan berimajinasi dengan prasangka. saya takut salah ngomong. tapi sungguh. itu sangat menyiksa. dan menyulitkan tentunya. karena saya tidak tahu apa yang orang lain pikirkan. selalu berpikir mengenai worst case ternyata tidak mendidik saya menjadi antisipatif atau menjadi lebih cerdas. tapi semakin minder, bingung, dan mudah menyerah. dan impact dari semua itu adalah ketidakstabilan emosi. ga, bukan labil. ah entahlah apa bedanya. tapi untuk mengontrol emosi, mengeluarkan kata-kata yang tepat, dan bersikap yang pantas kepada orang-orang di sekeliling saya menjadi cukup sulit. yang ujung-ujungnya cuma bikin saya tambah merasa bersalah. lagi.

Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii
Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

No comments: