Feb 2, 2011

menikah?

sebelumnya saya menyatakan bahwa saya berada dalam kondisi stabil sestabil-stabilnya saat membuat tulisan ini.
tadi saya buka facebook terus di home saya ada note teman tentang kehidupan dia setelah menikah. setelah saya baca, agak merinding juga. terus terang saya benar-benar tidak bisa membayangkan kehidupan saya setelah menikah nanti. gimana rasanya jauh dari orang tua, gimana rasanya 'mengurus' bukan lagi 'diurus'. bahkan saya yakin mama saya pun belum bisa membayangkan gimana kalo anak perempuan satu-satunya ini pergi dari rumah. mama pernah bilang kalau saya nanti menikah, tinggalnya tetap di rumah ini aja, nanti bangun lagi ke atasnya. adik saya juga gitu, nanti bangun lagi ke atasnya. ya kali mah. lama-lama ini rumah jadi rumah susun. ya terang aja saya kurang setuju sama usul itu. tapi wallahualam, gimana nanti aja.
ya, jauh dari orang tua otomatis mesti melakukan segala hal sendiri. maklumlah, belum pernah ngekos jadi ga tau rasanya. hal yang cukup saya khawatirkan dari sekarang adalah masalah masak-memasak. terus terang level memasak saya masih sangat beginner. wah gimana kalo dites dulu sama mertua? gimana kalo kata suami masakannya ga enak? hiii ga kebayang.
tapi yang jauh lebih penting dari itu adalah gimana caranya menjadikan pernikahan itu sebagai ibadah. gimana dua orang yang mungkin baru kenal atau sudah kenal lama bekerja sama dalam mencapai tujuan. ya ibarat organisasi, tugasnya berat tapi hanya dipegang oleh 2 orang saja. suami otomatis yang jadi ketua. merangkap juga sebagai danus (dana usaha). tapi istri? sebagai bendahara, sekretaris, konsumsi, logistik, pendidikan, danus juga mungkin, dan masih banyak yang lainnya. huah ternyata peran istri dalam sebuah keluarga itu sangat sangat besar, apalagi kalau sudah punya anak (mama... cupmuah).
ya, menikah itu tidak hanya 'menyatukan rasa', tapi menyempurnakan separuh dien. menyempurnakan separuh dien bukan hanya memiliki imam untuk shalat berjamaah, bukan hanya ada yang membangunkan kita malam-malam untuk tahajud bersama, bukan hanya membuat masakan sahur untuk shaum senin-kamis, atau tadarusan bersama. tapi bagaimana menegakkan dien Allah dalam ruang lingkup sekecil itu, dalam rumah tangga. yang nantinya bersama-sama berjuang menegakkan dien di muka bumi. dan tentunya untuk mencapai hal itu kita harus melihat dulu ke dalam diri kita. apakah separuh dien yang ada di diri kita sudah sempurna untuk kemudian disatukan dengan yang lain? kalau dalam diri kita saja dien itu belum tegak bagaimana caranya mencapai cita-cita tertinggi tersebut?
saya akui saya masih jauh sekali dari mendekati kesempurnaan. saya akui saya belum siap memiliki peran seperti yang telah disebutkan di atas. menikah masih sangat jauh dari pikiran saya sekarang. begitu pula dengan perangkat2 pernikahan itu sendiri, terutama calonnya. maka dari itu saya cuma bisa berdoa semoga kami dipertemukan nanti, di waktu yang tepat, saat kami sudah siap. tidak sekarang2 agar kami tidak terjerumus pada sesuatu yang tidak Kau ridhai.
walaupun ga ada seorang pun yang tau kapan waktu yang tepat itu.

6 comments:

supercute said...

undangannya meeeeeeeeel!

amelia riani said...

hayu atuh kapan kita ke percetakan? nama panggilan kamu ditulisnya mau apa?

inacute said...

:">
aku sih terserah kamu aja..

Anonymous said...

aku juga mauuu...

Anonymous said...

mel c mamah niat ya bikin rumah bintang lima,,asal anak cucunya tetep ngumpul,,,ngakak bacanya

amelia riani said...

memaaaang!