sedikit dari ceramah tarawih malam ini.
"kalau ada orang mengaku lulus SD, tapi ternyata dia tidak bisa baca, apa kita akan percaya kalau dia sudah lulus SD? lantas sekarang kalau kita mengaku sudah beberapa kali tamat Ramadhan, tapi masih suka bergunjing, masih tidak taat pada Allah, apakah kita sudah lulus Ramadhan?"
analogi yang menarik, yang mungkin sudah sering disampaikan atau kita dengar. tapi tetap saja nge-jleb. tarolah umur saya sekarang 21 tahun. dan anggaplah saya sudah puasa dari umur 6 tahun. artinya saya sudah 16 kali melewati Ramadhan. pertanyaannya, apakah sudah lulus? *belum, TA-nya belum kelar*
"wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (2:183)"
berarti final destination ini adalah 'menjadi orang yang bertakwa'.
takwa = taat pada Allah = taat pada Qur'an. sudahkan?
kemarin saya keluar dari parkiran SR terus dimintain STNK sama petugas IS*. ga biasanya. wong udah pake tiket parkir yang kalau ilang bayar sepuluh ribu. saya tanya "kenapa Pak? ada yang ilang?" terus katanya "ngga teh, justru takut ada yang ilang, kan mau lebaran, suka banyak curanmor"
sering sih denger, dan ngerasa. lebaran identik dengan cari uang sebanyak-banyaknya supaya bisa beli ini itu baru dan masak ini itu yang enak terus kasih duit kesini kesitu. walaupun tahu itu tidak disunahkan oleh Nabi, tapi seakan sudah jadi tradisi. dan akibatnya? ya itu tadi, curanmor pralebaran.
atau sering juga kan kita denger sebelum puasa kemarin tiba-tiba banyak razia. dan dianggap sebagai 'ngedanus buat munggahan'.
di satu sisi okelah kalau orang mau ngerayain datangnya hari istimewa dengan sesuatu yang istimewa. tapi esensi 'fitri' yang sebenarnya dikemanain? belum, belum tentu orang yang ga melakukan curanmor atau nyari duit-entah-halal-entah-tidak itu lebih 'fitri' dari yang melakukan, tapi ya itu, kalau selama di SD kita nyontek, pas lulus emang dapet apa?
No comments:
Post a Comment